Info Membuat Puisi Perpisahan Kelas 6

Puisi perpisahan kelas 6 – disetiap ada pertemuan, pastinya ada perpisahan. Ya, meskipun sebetulnya perpisahan salah satu hal yang benar-benar berat untuk ditemui.

Ditambah lagi bila perpisahan kesempatan ini ialah perpisahan dengan beberapa orang yang kita sayang serta pernah memberi banyak kebaikan. Perpisahan sekolah contohnya, yang dimana kita akan tinggalkan guru-guru serta teman-teman yang pernah membersamai kita dalam belajar.

Sedih? Wajar, namun jangan sampai berlarut-larut.

Dibanding susah berkelanjutan, lebih bagus kita datangkan satu karya lisan atau tulisan yang terkesan untuk beberapa orang yang kita sayang. Berikut contoh puisi perpisahan kelas 6 mengenai guru, sekolah, atau teman dekat.

Berikut ini adalah kutipan puisi perpisahan kelas 6 dari berbagai sumber:

Contoh Puisi perpisahan kelas 6

Salam Perpisahan

Oleh: NN

Kini, hatiku tergores kesedihan
Ketika terucap salam perpisahan
Walau air mataku tak berlinang
Bukan berarti suatu kerelaan

Saat-saat langkah terayun
Jarak kita-pun semakin membentang
Akankah semuanya jadi terkenang
Atau hanyut terbawa gelombang
Bahkan mungkin terkubur oleh waktu dan keadaan
Sobat, dalam hatiku ini
Akan tetap membekas suatu kenangan

Kau sungguh baik, supel dan komunikatif
Siapapun mengenalmu pasti akan merindu
Namun untukku, janganlah kau biarkan
Aku terkulai lemas dalam kehampaan
Karena rasa kangenku yang tidak kau harapkan

Selamat Tinggal Guru

Guru…
Ijinkan kami meneteskan embun dimata ini.
Ijinkan kami menggenggam ketabahanmu.
Ijinkan kami memahami keihlasanmu.
Ijinkan pula, kami menyesali kesalahan dan kealpaan ini.

Guru…
Dengan lengan kecil ini, kami belajar menulis huruf satu demi satu.
Dengan hati ini, kami memahami kata hingga menjadi bahasa sempurna.
Kini.. Kami baru mengerti arti ketulusanmu.
Ketulusan yang tak terbayarkan dengan apapun itu.

Guru…
Tanpamu, kami bukanlah siapa, kami bukanlah apa.
Disudut dada kiri kami, namamu telah membeku menjadi satu.

Guru…
Maafkan kesalahanku
Maafkan kasalahan kami
Maafkan kesalahan teman­teman kami
Maafkan kesalahan adik­adik kelas kami
Do’akan kami agar menjadi anak yang berbakti.

Guru…
Terimakasih atas segala keihlasanmu.
Terimakasih atas segala perhatianmu.
Terimakasih atas segala kasih sayangmu.
Terimakasih atas segala yang sudah engkau berikan kepada kami.

Guru…
Terimalah Salam Hormat kami
Terimalah Salam Takdzim kami
Terimalah Salam maaf kami
Biarlah Do’a kami yang memelukmu dari jauh

Kenangan Kita

Kenangan kita
Semua terjadi di gedung kotak bernama sekolah
Kita bersama merangkak mengutip ilmu.

Kenangan kita
Kita bersama tertawa
Bersama menangis
Bersama bermain.

Kenangan kita
Sebentar lagi semua itu fiksi
Kenangan yang kita lalui hilang di telan waktu
Semua cerita kita tamat di pucuk kertas.

Kenangan kita
Kawan aku tidak ingin berpisah
Aku ingin kita saling menggenggam
Ingin cerita kita tiada usai.

Kenangan kita
Kita akan jauh nanti
Terbang menggapai bintang
Menempuh jalan panjang.

Kenangan kita
Saat nanti kita tiada bersama lagi
Aku ingin kita berjanji pada hati
Berjanji untuk tidak pernah melupakan
Melupakan semua kenangan kita kawan.

“Selamat Tinggal Sahabat”
Sahabat kau teramat berarti untukku
Kau selalu menjadi tempat, yang di mana aku selalu di mengerti
Kau selalu menjadi warna.

Wahai sahabat
Perpisahan sudah di depan mata
Sebentar lagi kita akan saling melepaskan
Kita tidak akan bertatap wajah.

Waktu berjalan begitu cepat
Kemarin rasanya ku tahu namamu
Kemarin rasanya kita menjadi teman sekelas
Mengenalmu adalah anugerah bagiku
Anugerah dikarenakan langit telah memberiku bintang yang selalu bercahaya

Kau adalah bintang yang indah.
Pada akhirnya kita harus berpisah
Sebagaimana dulu kita bertemu
Bukankah perpisahan itu terjadi karena ada pertemuan?

Aku harus ikhlas
Ikhlas melepaskanmu
Ikhlas bukan berarti melupakan
Karena jujur aku tidak pernah berniat untuk mengusirmu dari pikiranku.

Di sekolah ini kita bertemu
Juga di sekolah ini kita berpisah
Kita bertemu karena takdir
Berpisah juga karena takdir.

Saat saat bersama
Kita lalui dengan banyak cerita panjang
Kita ukir dengan kenangan

Doakan Kami

Oleh: Dimas Ibnu Al Rasyid

Bahagia, haru, sedih menyelimuti kemeriahan ini
Menumpahkan segala rasa
Mengenang segala kisah
Memohon panjatan do’a

Waktu berlalu begitu cepat tanpa kita sadari
Tanpa terasa kita kan berpisah
Ikatan emosi selama ini kan terlepas
Tiada daya untuk mengingkarinya

Kebahagiaan yang ada telah tertebus dengan jerih payah selama ini
Belajar tlah kami rengkuh dengan segala daya dan upaya
Bimbingan tlah kami dapatkan dengan ketulusanmu Guruku
Ilmu yang bermanfaat telah terpatri dalm benak kami

Tibalah saatnya kami undur diri
Tuk menggapai asa yang lebih tinggi
Tuk Menghadapi tantangan masa depan
Mencapai cita-cita mulia di hadapan

Kesalahan, kekhilafan, kenakalan, kecerobohan, dan ketidaksopanan kami
Tiada maksud kami untuk menyakiti
Penyesalan atas kebodohan kami
Ribuan maafmu kami harapkan

Waktumu, Ilmumu, bimbinganmu telah menyejukkan hati kami
Petunjukmu telah menuntun kami
Nasehatmu telah menyelamatkan kami
Tiada yang dapat kami berikan sebagai balasan selain ucapan terima kasih kami yang tulus dari lubuk sanubari terdalam

Tersisa satu harap
Guruku, Do’a mu kutunggu
Restumu kunanti
Tuk menerangi jalan kami yang makin berliku
Semoga do’amu kan selalu menyertaiku

Celotehan Pena

Oleh: Thiany Sii Grey Cappucino

Dalam puing-puing dedaunan
Terbawa lamunan nan jauh ke sukma , menebar harum dalam setiap makna
Jauh aku mengarungi arti dari sebuah perjumpaan , dalam butiran do’a
Dengan mencoba bangkit dan terus melangkah tuk mencarinya… sebuah perjumpaan

Denyut nadi tak bisa berhenti
Berhenti dalam goresan dan peluh rasa ingin tahu
Dari sebuah titik menjelmalah menjadi garis yang berlalu-lalang
Itulah seumpamanya

Berawal dari sebuah perjumpaan yang berkembang menjadi kebersamaan
Yap…lebih tepatnya sebuah keakraban
Lajur kehidupan memang di takdirkan untuk berputar , begitu pula alur cerita ini… perjumpaan
Sekian Lama tinggal di bukit suka

Kini aku terjatuh , jatuh ke dalam lembah duka yang penuh kesakitan
Pada rasa sakit aku mencoba tepis rasa yang tak bersahabat itu… duka dan sakit
Tertatih , tapi bukan seras pedih
Selayaknya mentari yang selalu menyinari , aku masih terus berfikir

Akankah sebuah perjumpaan akan menemui sebuah perpisahan?
Suara hati mencairkan fikiranku untuk terus berlalu membawa angan
Malam berlalu…….

Angin pun ikut terbawa oleh suasana hatiku , angin bagaikan bahagiaku
Tatkala suara pretir menyambar rjantungku menghentikan serasa denyut nadi ini, petir bagaikan dukaku
Bahkan hingga petir menurunkan titahnya pada hujan yang turun , hujan bagaikan tangisanku
Bagian dari suasana hatiku

Hujan berhenti…..Tahukah kau bintang….?
Tersadar akan ini , tak perlu terluka dalam nestapa , bahagiaku dengan manja
Aku sudah merasa cukup dengan semua itu… perjumpaan dan keakraban
Walau tatkala kata “perpisahan” menggelegar di telingaku , aku mencoba tuk tetap tersenyum walau dalam paksaan

Namun,,,,Kini ku menyadari…
Di dunia ini………
Sebuah perjumpaan sangatlah mustahil tuk tetap abadi,
Begitu pula sebaliknya…
Sebuah perpisahan juga sangat mustahil tuk tetap abadi
Awal adalah akhir Dan akhir adalah awal
Semua yang berawal akan berakhir Dan semua yang berakhir akan awal

Salam Hormatku

Padahal berbagai ilmu telah engkau serahkan kepada kaSaat engkau telah sabar mengajarku
Saat engkau tegar menghadapiku
Dan saat engkau ihlas mendidikku
Kini apa yang dapat kulakukan
Untuk membalas semua kebaikanmu

Wahai guruku..
Sungguh mulia kedudukanmu
Engkau mendapat gelar pahlawan tanpa tanda jasa
Engkau bersabar dan tanpa mengenal putus asa

Kini tinggal kenangan dan kesedihan
Mengenangmu sungguh luar biasa
Mengorbananmu tiada tara
Ketika hari ini diriku usai dalam pendidikan

Sungguh berat meninggalkanmu
Kini hatiku sedih dan merasa enggan
Bila terucap kata perpisahan
Sungguh diriku tak mampu menahan kesedihan

Bila harus pergi meninggalkan engkau dan teman-teman
Ketika hari ini terucap kata perpisahan
Hati ini penuh dengan kesedihan
Berat untuk mengucapkan kerelaan

Air mata terus bercucuran
Berdoa agar tak hanya sampai disini kita jumpa
Saat guru tersenyum
Kebahagianku kini selalu terasa riang

Namun ketika engkau meneteskan air mata
Diriku bingung diam tanpa kata
Apa yang dapat kulakukan untuk mengembalikan senyuman
Tidak hanya sebatas angan

Walau jarak semakin membentang
Walaupun berbeda keadaan
Semua tentangmu akan selalu kukenang

Maafkan Kesalahan Kami

Kini waktunya berpisah denganmu wahai guruku
Maafkan atas kesalahan yang pernah kami perbuat
Keusilan dan kenakalan yang membuatmu marah dan kesal
Hingga mengusik ketenangan dalam belajarmi
Tanpa lelah dan tak kenal kesal hati
Penuh perjuangan untuk membekali anak negeri
Segunung pengetahuan rela ia ajarkan perlahan
Sekarang kami menjadi tau karena kesabaranmu
Sekarang kami menjadi disiplin karena engkau mengajarkan hal kecil harus diperahatikan
Sekarang kami kreatif karena engkau mengajarkan untuk aktif
Dan sekarang kami cerdas karena engkau telah mengusir malas
Semua telah engkau berikan wahai guruku
Keberhasilan sudah nampak di depan mata
Hingga terlihat jelas dan merasuk ke retina
Sampai terbentuk bayang-bayang yang nyata
Maafkan semua tindakan tak terpuji
Sampai tergores di hati kecilmu nan suci
Baktimu akan selalu terkenang walaupun raga berada dipelosok negeri
Jasamu akan selalu ku ingat hingga akhir nanti

Terima Kasih Guruku Pujaan Hatiku

Pagi hari ini seperti tak biasa
Berkumpul membaur sebanyak rasa
Haru…sedih….bahagia menjadi satu…
Satu nuansa tanpa rekayasa
Kebahagiaan kami tertumpah di sini
Berhasil melewati ujian akhir tahun ini
Lalu… menjadi haru mengiris hati…
Teringat kisah kasih selama ini
Kisah suka duka persahabatan kami,
Dan kasihmu wahai guru-guru yang kami cintai
Sedih..akhir dari perasaan kami
Kala menyadari perpisahan harus terjadi
Setelah kesan dan pesan terlanjur terpatri
Menjadikan kami murid yang berprestasi tinggi
Bahagia …sedih..dan haru…
Menyatu karna kemurnian sentuhanmu
Membuat lidah kami terasa kaku
Untuk sekadar berucap padamu…
Thanks you for all and good by guru
Hanya itu yang kami mampu…
Oh pagi ini begitu sayu

Maafkan Sahabat

Nafas ini tersengal menjerit
Diredam sedih dekap kerinduan
Tak peduli khalayak ramai
Perpisahan selalu menjadi bingkai perih
menghitung waktu ketika kita tak lagi bertemu
Sesering dulu saat kita berseragam abu – abu
Tak ada canda menertawai sang guru
Tak ada tawa menggunjing pemuda
Wahai sahabat perjuangan
Disini kita kan selalu ingat
Ada sahabat yang menuntun kita
Menuju kedewasaan
Diantara kemarahan kita
ada kedewasaan yang tersirat
Diantara kebersamaan kita
Ada kasih Tuhan yang tersurat
Maaf atas lisan yang tak bertuan
Maaf atas sikap yang tak berkelakuan
Maaf atas fikir yang tek tertentukan
Kita tetap dalam naungan persahabatan

Satu Harapan

Guru
Engkau bagaikan cahaya
Yang menerangi jiwa
Dari segala gelap dunia
Guru
Engkau adalah setetes embun
Yang menyejukan hati
Hati yang ditikam kebodohan
Guru
Dalam benak kami yang dalam
Kami sadar akan kesalahan
Kami menyesal atas kebodohan
Bapak……..ibu ……………Guruku
Tersisa satu harap
Ribuan maafmu kami panjatkan
Keikhalsan do’a kami pintakan
Restumu kan kami nantikan
Tuk menerangi jalan kami yang makin berliku

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *